Blue energy ala Indonesia : sebuah analisis

Akhir-akhir ini lagi heboh soal Blue Energy, yaitu sistem pembuatan BBM berbahan dasar air buatan Joko Suprapto, seurang entrepreneur nyentrik asal Yogyakarta. Tolong jangan keliru dengan Blue Energy buatan orang Eropa sono ya. Nama sama, tapi beda teknik.

Sebetulnya yang baru dari temuannya (jika benar) adalah merubah Hidrogen (H2) dari hasil elektrolisis air menjadi senyawa hidrokarbon dengan menambahkan Carbon (C) sehingga membentuk rantai senyawa serupa minyak.

Sampai disini sih masih ok-ok saja (walaupun beliau juga belum membuktikan kebenaran klaim ini). Menjadi masalah ketika beliau mengklaim bahwa bahan bakar temuannya ini, akan sangat ramah lingkungan dan murah, sekitar Rp 3000/liter. Mendengar hal ini tentunya kaum terpelajar sedikit terperanjat. Ini tidak mungkin terjadi, setidaknya jika kita bersandar kepada kenyataan-kenyataan bahwa:

  • Energi tidak dapat diciptakan, tidak dapat dimusnahkan (hukum kekekalan energi)
  • Proses elektrolisis (pemisahan H2 dan O2 dari air menggunakan arus listrik) adalah proses yang membutuhkan energi besar.
  • Energi listrik yang digunakan untuk melakukan elektrolisis tersebut, kebanyakan bersumber dari energi tidak terbaharukan. Di Indonesia kebanyakan pembangkit listrik bertenaga batu bara dan diesel, yang semua orang tahu sangatlah kotor dan tidak efisien.
  • Belum lagi teknologi proprietary dari Joko sendiri yang akan mengubah H2 menjadi hidrokarbon, tentunya memerlukan tenaga yang tidak sedikit bukan ?

Maka itu untuk membuat bahan bakar Blue Energy ini, pastinya diperlukan energi yang sangat besar, melebihi energi yang akan kita dapatkan dari hasil proses tersebut. Dan juga, klaim ramah lingkungan juga dapat ditampik jika produksi listrik masih menggunakan bahan bakar fosil.

Kabar terakhir, senjata pamungkas tim Blue Energy ini adalah mengklaim bahwa listrik yang digunakan bukan berasal dari PLN, melainkan dari sebuah reaktor listrik (lagi-lagi “temuan” beliau) yang menggunakan limbah rumah sakit sebagai bahan bakar.

Melihat kenyataan dan berita akhir-akhir ini, gw sangat meragukan dari kemampuan Blue Energy ini dalam memecahkan masalah krisis energi yang melanda Indonesia. Kita sebagai bangsa Indonesia jangan mudah tertipu oleh orang-orang yang berusaha mencari sensasi, ketenaran, uang investor. Tuntut bukti, jangan terbuai mimpi.

Tolong jangan berkata “beripikirlah positif” atau “ah lu mah bisanya mencela orang, ga bisa membuat inovasi” atau “thomas alva edison juga dulu diolok-olok orang”. Thomas Alva Edison dkk, adalah sedikit dari banyak orang yang membuat klaim-klaim luar biasa yang dapat membuktikan teorinya. Jauh lebih banyak orang yang mencari sensasi, ketenaran, dan membohongi publik, yang notabene memang kurang belajar dan kurang kritis. Daripada “positive thinking“, kenapa kita tidak “rational thinking” aja ? (rnh)

4 Tanggapan ke “Blue energy ala Indonesia : sebuah analisis”


  1. 1 transmorfosis Mei 26, 2008 pukul 10:36 pm

    waduh jangan pesimis gitu lah. Kita ini harus optimis menyongsong masa yang lebih baik.

  2. 2 reggionh Mei 27, 2008 pukul 12:10 am

    yak.. persis seperti yang gw sudah ramal, bakalan ada komentar2 seperti ini. Tolong dibedakan ‘pesimis’ dengan ‘kritis’. Optimis ?

    Sebetulnya saking optimisnya gw menyongsong masa depan yang lebih baik, gw ga membiarkan diri gw ditipu dan dibuai oleh orang-orang yang hanya menjual mimpi.

    BTW thanks for the comment :)

  3. 3 technowyvern Juni 3, 2008 pukul 8:39 pm

    Guw setuju sama pendapat lo .. Kabarnya Joko Suprapto mendapat fasilitasi pabrik pembuatan Blue Energy. Klu ternyata penemuan itu ngga terbukti menghasilkan “bahan bakar dari air laut”, maka negara sudah buang2 dana lagi .. Walau pun benar bisa menjadi alternatif bahan bakar, bukan berarti proses/dananya juga lebih mudah ketimbang BBM.

    Lucunya, mentor guw memutuskan untuk menugaskan guw membuat percobaan pemisahan H2 dan O2 dengan proses elektrolisis dengan tujuan mencari tahu seberapa besar energi listrik yang diperlukan untuk menguraikan air sebanyak 50 mL .. Ini lagi-lagi karena penasaran dengan isu Blue Energy.

  4. 4 reggionh Juni 3, 2008 pukul 8:58 pm

    @technowyvern

    yak semestinya kita sebagai bangsa Indonesia jangan terlalu naif, bijaklah sedikit. Di saat-saat krisis kayak gini, banyak dan gampang banget orang-orang cari sensasi.

    Kalo lagi ada penelitian elektrolisis air, boleh liat2 di:
    http://en.wikipedia.org/wiki/Electrolysis_of_water
    banyak info bagus juga


Tinggalkan Balasan